Bagian Retak Itu
Dapatkah sesuatu yang telah retak disatukan kembali? Akankah merapat kembali seperti semula? Bagaimana jika yang retak itu adalah kaca, ia telah remuk kupecahkan. Bisakah? Kutanyakan bekali-kali pada dinding itu. Tiba-tiba redam oleh suara hujan, lalu kembali tak peduli. Baiklah, aku memang harus mencari cara seorang diri. Kucoba merekatkannya menggunakan peralatan seadanya. Satu persatu serpihannya kuambil, lalu kutempelkan. Tanpa sadar tanganku tergores oleh beberapa serpihannya. Darah menetes sedikit dari jari kananku. Aneh, aku tak merasakan sakit sama sekali. Lalu kulanjutkan menyambungkan serpihannya satu persatu. Aku semakin terbiasa, sedikit lagi seluruh pecahannya selesai kurekatkan. Entah mengapa perasaan ini tiba-tiba muncul. Perasaan bersalah telah memecahkan kaca ini telah berubah menjadi semangat yang menggelora untuk kembali menyatukan pecahan-pecahan itu. Sesalku telah mencapai muaranya. Aku merasa bertanggung jawab untuk merekatkannya kembali, menjadikannya utuh. ...