Postingan

Menampilkan postingan dengan label #Jilid30

Marti #2

Hari semakin siang, matahari terasa semakin terik. Jalanan mulai dipadati kendaraan-kendaraan. Tentunya pemandangan jalan sudah tak seindah pagi tadi. Mar. Ingat ya, sudah janji pulang sebelum petang. Terlihat pesan tampil di layar ponselnya, pesan dari ibunya. Ia menghiraukan pesan itu. Toh hari masih siang, gumamnya dalam hati.  Mar sontak bangkit dari duduknya. Menyusuri jalanan, mencari-cari tempat lain yang menarik. Dilihatnya ada seorang penjual es krim di depan. Dihampirinya si penjual, ia lalu memesan es krim rasa cokelat. Dikeluarkannya uang lembaran sepuluh ribuan, lalu diserahkannya pada si penjual. Dilihatnya sekeliling, diamatinya keadaan sekitar, apakah ada bangku tempat duduk terdekat. Lalu dilihatnya di dekat situ ada bangku taman di samping pohon belimbing. Ia menuju kesana, duduk, lalu menikmati es krimnya.  Di tengah menikmati es krim, seekor kucing hitam datang menghampirinya. Tubuhnya kotor, bulunya rontok, matanya rusak sebelah. Sepertinya kucing itu kela...

Anak-Anak Kaki Merapi

Menjelang sore di ufuk barat, nampak segerombolan anak-anak remaja dengan kopyah melangkahkan kakinya pelan, sambil membawa ransel di belakangnya. Langkah mereka terhenti pada sebuah rumah kayu dengan dua lantai. Perlahan mereka mengucap salam, lalu mengetukkan pintu. Kemudian masuk setelah dipersilakan oleh seorang kakek dengan baju putih di dalam rumah itu. Mereka lantas masuk dengan menaiki tangga menuju lantai dua. Di lantai dua rumah itu, para remaja membentuk barisan melingkar. Sambil mendengarkan Si Kakek berbicara. Beberapa waktu kemudian, anak-anak duduk berbaris satu-satu di hadapan Si Kakek. Satu persatu mereka membaca Quran, dengan disimak oleh Si Kakek. "Baleni malih Le, makhroje salah (Ulangi lagi Nak, makhrajnya salah)", kata Si Kakek. Lalu Si Anak mengulangi bacaannya sampai benar sesuai yang diminta oleh Si Kakek.  Belum selesai semua anak menyetorkan bacaannya pada Si Kakek, terdengar suara riuh di luar. Orang-orang keluar rumah. Nampak raut muka panik setia...

Bingkai

Kudapati senja merekah di langit Jakarta. Juga sisa-sisa ingatan di pelupuk mata. Bekas isak tangis yang lupa kau seka. Aku dan dirimu adalah manusia dalam keterasingan. Hanyut dan tenggelam dalam riuh, ingar bingar kota. Sementara di pundakmu adalah beban, juga mimpi dan harapan. Maka yang ada hanyalah kita yang saling menguatkan. Aku dan dirimu adalah sepatah kata yang kau sebut rindu. Adalah setetes air mata yang kau sebut pilu. Adalah hasil ukiran yang kau sebut kenangan. Maka ku simpan setiap adegan tentangmu dalam sebuah bingkai di atas mejaku. Kita saling menuliskan impian, sementara tangan kita saling menggenggam.  Kita saling mengukir kenangan, sementara tangan kita merajut sebuah perpisahan. Kulihat sendu terkumpul di raut wajahmu. “Waktu begitu terburu-buru”, katamu. Sementara masih ada rindu yang saling kita sembunyikan. Bingkai tentangmu. Biarlah usang. Biarlah menua senada masa. Biarlah lapuk bersama keroposnya kayu mejaku. Lebur bersama tanah lantaiku. M...

Penopang Perekonomian di Kala Pandemi

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 memberikan dampak yang luar biasa terhadap perekonomian dunia. Hampir seluruh negara mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi, tak terkecuali Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia tahun 2020 menunjukkan terjadinya kontraksi sebesar 2,07 persen.  Hampir seluruh kategori lapangan usaha mengalami kontraksi. Sektor yang terdampak paling parah adalah sektor lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan, dengan angka pertumbuhannya terkontraksi sebesar 15,04 persen. Hal ini sejalan dengan adanya pembatasan seluruh moda transportasi dalam rangka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada tahun 2020. Namun, hal ini tidak berlaku pada kategori Informasi dan Komunikasi, sektor lapangan usaha ini justru tumbuh sebesar 10,58 persen selama tahun 2020. Tingginya laju pertumbuhan pada sektor lapangan usaha Informasi dan Komunikasi menjadikannya sebagai salah s...

Marti #1

Suatu pagi di Jakarta, Marti—seorang anak perempuan usia belasan tahun, berjalan sedirian menyusuri trotoar. Ia melihat-lihat sekitar, mengamati dengan seksama setiap bangunan yang ia lalui. Lalu berhenti sejenak pada sebuah kursi taman. Perlahan ia membuka tas dan menemukan di dalamnya ada sebungkus roti yang telah disiapkan oleh ibunya untuk bekal. Tanpa pikir panjang, ia langsung melahap rotinya. Kemudian membuka botol minum, lalu meneguknya perlahan.  Ia melihat ke seberang jalan, nenek-nenek dengan beberapa barang di keranjangnya, terlihat sedang menunggu sesuatu. Lalu di sebelah nenek tersebut, wanita paruh baya, yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya, sambil beberapa kali menelepon seseorang. Ia tak memedulikan nenek di sebelahnya. Bahkan mungkin tak sempat menyapa si nenek.  Tak lama kemudian, datanglah mikrolet yang hanya terisi dua penumpang. Dan benar saja, si nenek menghentikan mikrolet dengan mengacungkan tangannya. Pak sopir turun dari mikrolet, mencoba memba...