Postingan

Menampilkan postingan dengan label #healing

Si Kecil Nara

Gambar
Nara—Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, tinggal di pulau kecil, ujung barat negeri Fatamorgana. Ia tinggal bertiga dengan ayah ibunya. Ia seringkali mengenakan baju berwarna merah—warna kesukaannya. Hampir semua yang ia kenakan berwarna merah, sepatunya merah, ikat rambutnya merah, memakai kalung pemberian ibunya yang juga berwarna merah. Suatu pagi, Nara bosan. Biasanya pagi hari ia harus membantu ayah ibunya membereskan rumah. Ia kabur, dengan mengenakan baju merahnya, menuju pantai, tanpa sepengetahuan ayah ibunya.   Lebih baik tak memberitahukan mereka, pikirnya. Sampai di pantai, ternyata banyak teman-teman seumurannya yang sudah berada di sana. Ia langsung berlari ke arah mereka. Ikut bermain kejar-kejaran, lempar tangkap bola, dan membuat rumah-rumahan dari pasir.  Ah, menyenangkan sekali. Selama ini aku tak pernah diizinkan main pagi-pagi, gumam Nara dalam hati. Hari sudah semakin siang, matahari semakin terik. Teman-temannya satu persatu pulang ke rumahn...

Anak-Anak Kaki Merapi

Menjelang sore di ufuk barat, nampak segerombolan anak-anak remaja dengan kopyah melangkahkan kakinya pelan, sambil membawa ransel di belakangnya. Langkah mereka terhenti pada sebuah rumah kayu dengan dua lantai. Perlahan mereka mengucap salam, lalu mengetukkan pintu. Kemudian masuk setelah dipersilakan oleh seorang kakek dengan baju putih di dalam rumah itu. Mereka lantas masuk dengan menaiki tangga menuju lantai dua. Di lantai dua rumah itu, para remaja membentuk barisan melingkar. Sambil mendengarkan Si Kakek berbicara. Beberapa waktu kemudian, anak-anak duduk berbaris satu-satu di hadapan Si Kakek. Satu persatu mereka membaca Quran, dengan disimak oleh Si Kakek. "Baleni malih Le, makhroje salah (Ulangi lagi Nak, makhrajnya salah)", kata Si Kakek. Lalu Si Anak mengulangi bacaannya sampai benar sesuai yang diminta oleh Si Kakek.  Belum selesai semua anak menyetorkan bacaannya pada Si Kakek, terdengar suara riuh di luar. Orang-orang keluar rumah. Nampak raut muka panik setia...

Bingkai

Kudapati senja merekah di langit Jakarta. Juga sisa-sisa ingatan di pelupuk mata. Bekas isak tangis yang lupa kau seka. Aku dan dirimu adalah manusia dalam keterasingan. Hanyut dan tenggelam dalam riuh, ingar bingar kota. Sementara di pundakmu adalah beban, juga mimpi dan harapan. Maka yang ada hanyalah kita yang saling menguatkan. Aku dan dirimu adalah sepatah kata yang kau sebut rindu. Adalah setetes air mata yang kau sebut pilu. Adalah hasil ukiran yang kau sebut kenangan. Maka ku simpan setiap adegan tentangmu dalam sebuah bingkai di atas mejaku. Kita saling menuliskan impian, sementara tangan kita saling menggenggam.  Kita saling mengukir kenangan, sementara tangan kita merajut sebuah perpisahan. Kulihat sendu terkumpul di raut wajahmu. “Waktu begitu terburu-buru”, katamu. Sementara masih ada rindu yang saling kita sembunyikan. Bingkai tentangmu. Biarlah usang. Biarlah menua senada masa. Biarlah lapuk bersama keroposnya kayu mejaku. Lebur bersama tanah lantaiku. M...

Marti #1

Suatu pagi di Jakarta, Marti—seorang anak perempuan usia belasan tahun, berjalan sedirian menyusuri trotoar. Ia melihat-lihat sekitar, mengamati dengan seksama setiap bangunan yang ia lalui. Lalu berhenti sejenak pada sebuah kursi taman. Perlahan ia membuka tas dan menemukan di dalamnya ada sebungkus roti yang telah disiapkan oleh ibunya untuk bekal. Tanpa pikir panjang, ia langsung melahap rotinya. Kemudian membuka botol minum, lalu meneguknya perlahan.  Ia melihat ke seberang jalan, nenek-nenek dengan beberapa barang di keranjangnya, terlihat sedang menunggu sesuatu. Lalu di sebelah nenek tersebut, wanita paruh baya, yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya, sambil beberapa kali menelepon seseorang. Ia tak memedulikan nenek di sebelahnya. Bahkan mungkin tak sempat menyapa si nenek.  Tak lama kemudian, datanglah mikrolet yang hanya terisi dua penumpang. Dan benar saja, si nenek menghentikan mikrolet dengan mengacungkan tangannya. Pak sopir turun dari mikrolet, mencoba memba...