Postingan

Menampilkan postingan dengan label #fiksi

Tertunduk

Pagi ini tubuhku terasa lemas. Hoam. Mulutku menganga sembari cepat-cepat menutup mulut dengan tanganku. Malas melakukan apapun.  Toh ini hari libur. Saatnya bersantai. Gumamku dalam hati.  Lalu aku pergi ke dapur, mencari-cari sesuatu untuk mengganjal perut. Lalu kutemukan satu buah alpukat yang sudah masak. Lantas kupotong-potong, kutaruh di piring kecil, kubawa ke teras rumah sambil duduk-duduk di depan. Tidak lupa aku mengambil air hangat dari dispenser.  Hari ini sungguh merepotkan. Pak Bos memintaku untuk mengirimkan hasil pekerjaannya hari ini. Aku kesal sekali. Bahkan ketika hari libur pun masih saja ada gangguan. Sejenak aku ingin melupakan semua deadline tugas-tugas dari kantor. Bahkan ponselku sengaja kumatikan agar tak ada yang menelepon dan menggangguku.  Tugas dari Bos, biarlah, aku tak peduli lagi. Selama seminggu ini aku sudah bekerja habis-habisan. Pokoknya aku tak mau ada yang menggangguku hari ini!. Kulihat di seberang jalan, seorang kakek m...

Si Kecil Nara

Gambar
Nara—Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, tinggal di pulau kecil, ujung barat negeri Fatamorgana. Ia tinggal bertiga dengan ayah ibunya. Ia seringkali mengenakan baju berwarna merah—warna kesukaannya. Hampir semua yang ia kenakan berwarna merah, sepatunya merah, ikat rambutnya merah, memakai kalung pemberian ibunya yang juga berwarna merah. Suatu pagi, Nara bosan. Biasanya pagi hari ia harus membantu ayah ibunya membereskan rumah. Ia kabur, dengan mengenakan baju merahnya, menuju pantai, tanpa sepengetahuan ayah ibunya.   Lebih baik tak memberitahukan mereka, pikirnya. Sampai di pantai, ternyata banyak teman-teman seumurannya yang sudah berada di sana. Ia langsung berlari ke arah mereka. Ikut bermain kejar-kejaran, lempar tangkap bola, dan membuat rumah-rumahan dari pasir.  Ah, menyenangkan sekali. Selama ini aku tak pernah diizinkan main pagi-pagi, gumam Nara dalam hati. Hari sudah semakin siang, matahari semakin terik. Teman-temannya satu persatu pulang ke rumahn...

Selamat Pagi, Gerimis

Rindu memang menyenangkan, membuat hati sejenak lebih tenteram, pergi mengingat bayang. Namun siapa sangka, rindu mampu membuatku merana. Kata hati yang tak tersampaikan, hingga akhirnya kau berlari bersama bayang. Ditemani gerimis yang awalnya manis, kemudian turun menjadi rintik pahit sebuah kenangan.  Gerimis memaksaku singgah ke gubuk seberang. Aku duduk, termenung, menunggunya mereda. Berharap gerimis segera menghilang. Namun gerimis tak hentinya turun. Ia mengejekku, tertawa riang, menari-nari di bawah langit kelam. Gerimis lalu menjelma hujan. Seketika hujan lebat tak karuan. Ia malah menari-nari riang, membawa kilatan petir dalam tarian. Semakin aku takut, semakin ia tertawa riang. Petir menyambar bersaut-sautan. Redam, lalu sekali lagi terdengar menyambar tanpa ampun. Seketika langit semakin mencekam.  Aku terus menjerit ketakutan, berharap engkau datang meredakan hujan. Nyatanya, engkau tak kunjung datang. Aku lelah menunggu. Lalu kubiarkan saja dirimu lalu. Bukanka...

Marti #1

Suatu pagi di Jakarta, Marti—seorang anak perempuan usia belasan tahun, berjalan sedirian menyusuri trotoar. Ia melihat-lihat sekitar, mengamati dengan seksama setiap bangunan yang ia lalui. Lalu berhenti sejenak pada sebuah kursi taman. Perlahan ia membuka tas dan menemukan di dalamnya ada sebungkus roti yang telah disiapkan oleh ibunya untuk bekal. Tanpa pikir panjang, ia langsung melahap rotinya. Kemudian membuka botol minum, lalu meneguknya perlahan.  Ia melihat ke seberang jalan, nenek-nenek dengan beberapa barang di keranjangnya, terlihat sedang menunggu sesuatu. Lalu di sebelah nenek tersebut, wanita paruh baya, yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya, sambil beberapa kali menelepon seseorang. Ia tak memedulikan nenek di sebelahnya. Bahkan mungkin tak sempat menyapa si nenek.  Tak lama kemudian, datanglah mikrolet yang hanya terisi dua penumpang. Dan benar saja, si nenek menghentikan mikrolet dengan mengacungkan tangannya. Pak sopir turun dari mikrolet, mencoba memba...