Postingan

Menampilkan postingan dengan label #Marti

Marti #3

Seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh gopoh, matanya sembab, memasuki lorong rumah sakit. Wanita itu semakin  mempercepat langkah. Melihat kanan kiri. Lalu memasuki suatu ruangan dengan nomor 127.  "Mar..!", teriak wanita itu. Ia memeluk seorang anak yang terbaring lemas di atas ranjang kamar rumah sakit—Marti. Ia masih belum sepenuhnya sadar. Akan tetapi, kondisinya sudah semakin membaik. Setelah jatuh di halte busway, ia masih tak sadarkan diri hingga sekarang.  Wanita itu masih duduk di samping ranjang. Dengan tangannya sambil memegangi tangan Marti. Dilihatnya wajah Marti, barangkali ia akan terbangun. Namun tidak, ia belum juga terbangun. Si wanita itu masih sabar menungguinya di sampingnya.  Beberapa lama kemudian, datanglah dokter dan beberapa perawatnya. Memberikan suntikan ringan, serta menambah kadar oksigen. Tiba-tiba saja, mata Marti bergerak. Perlahan ia membuka mata. "Ibu...!", katanya pada wanita di sebelahnya.  Ternyata wanita itu adalah i...

Marti #2

Hari semakin siang, matahari terasa semakin terik. Jalanan mulai dipadati kendaraan-kendaraan. Tentunya pemandangan jalan sudah tak seindah pagi tadi. Mar. Ingat ya, sudah janji pulang sebelum petang. Terlihat pesan tampil di layar ponselnya, pesan dari ibunya. Ia menghiraukan pesan itu. Toh hari masih siang, gumamnya dalam hati.  Mar sontak bangkit dari duduknya. Menyusuri jalanan, mencari-cari tempat lain yang menarik. Dilihatnya ada seorang penjual es krim di depan. Dihampirinya si penjual, ia lalu memesan es krim rasa cokelat. Dikeluarkannya uang lembaran sepuluh ribuan, lalu diserahkannya pada si penjual. Dilihatnya sekeliling, diamatinya keadaan sekitar, apakah ada bangku tempat duduk terdekat. Lalu dilihatnya di dekat situ ada bangku taman di samping pohon belimbing. Ia menuju kesana, duduk, lalu menikmati es krimnya.  Di tengah menikmati es krim, seekor kucing hitam datang menghampirinya. Tubuhnya kotor, bulunya rontok, matanya rusak sebelah. Sepertinya kucing itu kela...

Marti #1

Suatu pagi di Jakarta, Marti—seorang anak perempuan usia belasan tahun, berjalan sedirian menyusuri trotoar. Ia melihat-lihat sekitar, mengamati dengan seksama setiap bangunan yang ia lalui. Lalu berhenti sejenak pada sebuah kursi taman. Perlahan ia membuka tas dan menemukan di dalamnya ada sebungkus roti yang telah disiapkan oleh ibunya untuk bekal. Tanpa pikir panjang, ia langsung melahap rotinya. Kemudian membuka botol minum, lalu meneguknya perlahan.  Ia melihat ke seberang jalan, nenek-nenek dengan beberapa barang di keranjangnya, terlihat sedang menunggu sesuatu. Lalu di sebelah nenek tersebut, wanita paruh baya, yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya, sambil beberapa kali menelepon seseorang. Ia tak memedulikan nenek di sebelahnya. Bahkan mungkin tak sempat menyapa si nenek.  Tak lama kemudian, datanglah mikrolet yang hanya terisi dua penumpang. Dan benar saja, si nenek menghentikan mikrolet dengan mengacungkan tangannya. Pak sopir turun dari mikrolet, mencoba memba...