Marti #3
Seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh gopoh, matanya sembab, memasuki lorong rumah sakit. Wanita itu semakin mempercepat langkah. Melihat kanan kiri. Lalu memasuki suatu ruangan dengan nomor 127. "Mar..!", teriak wanita itu. Ia memeluk seorang anak yang terbaring lemas di atas ranjang kamar rumah sakit—Marti. Ia masih belum sepenuhnya sadar. Akan tetapi, kondisinya sudah semakin membaik. Setelah jatuh di halte busway, ia masih tak sadarkan diri hingga sekarang. Wanita itu masih duduk di samping ranjang. Dengan tangannya sambil memegangi tangan Marti. Dilihatnya wajah Marti, barangkali ia akan terbangun. Namun tidak, ia belum juga terbangun. Si wanita itu masih sabar menungguinya di sampingnya. Beberapa lama kemudian, datanglah dokter dan beberapa perawatnya. Memberikan suntikan ringan, serta menambah kadar oksigen. Tiba-tiba saja, mata Marti bergerak. Perlahan ia membuka mata. "Ibu...!", katanya pada wanita di sebelahnya. Ternyata wanita itu adalah i...