Postingan

Menjadi Bukan Mencari

Sungguh beruntung seseorang yang memiliki teman. Teman yang memiliki pemikiran jauh ke depan, yang pemikirannya menerobos jauh hingga alam setelah kehidupan. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Memikirkan apa yang harus dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan. Ketika salah, ia mengingatkan. Ketika lemah, ia menguatkan. Ketika jauh, ia mendoakan.  Seorang teman akan mengajarkan hal-hal yang baik pada kita. Memberikan ilmu yang sebelumnya tak ada pada kita. Mengajarkan apapun dengan sabar. Menyediakan waktunya untuk sekadar mendengarkan.  Seorang teman akan terus melangkah searah dengan kita. Menemani dan mengiringi setiap langkah yang kita ambil. Menuju pada tujuan yang sama. Menarik kembali kita ketika hampir-hampir salah arah. Lalu kembali menggandeng pada jalan yang telah ditetapkannya. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kamu telah memiliki teman semacam itu. Sayangnya, pertanyaan ini tak perlu dijawab. Justru pertanyaan lain yang lebih penting adalah, apakah a...

Bagian Retak Itu

Gambar
Dapatkah sesuatu yang telah retak disatukan kembali? Akankah merapat kembali seperti semula? Bagaimana jika yang retak itu adalah kaca, ia telah remuk kupecahkan. Bisakah? Kutanyakan bekali-kali pada dinding itu. Tiba-tiba redam oleh suara hujan, lalu kembali tak peduli. Baiklah, aku memang harus mencari cara seorang diri. Kucoba merekatkannya menggunakan peralatan seadanya. Satu persatu serpihannya kuambil, lalu kutempelkan. Tanpa sadar tanganku tergores oleh beberapa serpihannya. Darah menetes sedikit dari jari kananku. Aneh, aku tak merasakan sakit sama sekali. Lalu kulanjutkan menyambungkan serpihannya satu persatu. Aku semakin terbiasa, sedikit lagi seluruh pecahannya selesai kurekatkan.  Entah mengapa perasaan ini tiba-tiba muncul. Perasaan bersalah telah memecahkan kaca ini telah berubah menjadi semangat yang menggelora untuk kembali menyatukan pecahan-pecahan itu. Sesalku telah mencapai muaranya. Aku merasa bertanggung jawab untuk merekatkannya kembali, menjadikannya utuh. ...

Bicara Cinta

Cinta, bergantung pada kita yang memaknainya. Bicara tentang cinta, salah satu puisi dari Goenawan Mohamad mengingatkanku tentang betapa luasnya makna cinta. Puisi ini ditulis oleh beliau pada tahun 1963, adalah puisi yang berjudul "Surat Cinta". Bukankah surat cinta ini ditulis ditulis ke arah siapa saja Seperti hujan yang jatuh ritmis menyentuh arah siapa saja Bukankah surat cinta ini berkisah berkisah melintas lembar bumi yang fana Seperti misalnya gurun yang lelah dilepas embun dan cahaya Puisi ini bagiku lebih kepada cinta Sang Pencipta kepada makhluknya. Di mana surat cinta ini kuartikan sebagai suatu pesan, pedoman, dan ungkapan yang diberikan pada seluruh makhluknya. Meliputi siapa saja, tak terkecuali. Sepanjang zaman, melintasi waktu demi waktu.  Kita, yang seringkali mencela cinta, adalah tersebab kita menyempitkan maknanya. Seringkali kita hanya memaknainya sebagai perasaan suka antara aku dan dia. Lalu setelah patah hatinya, kita amat membenci cinta. Padahal sela...

Si Kecil Nara

Gambar
Nara—Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, tinggal di pulau kecil, ujung barat negeri Fatamorgana. Ia tinggal bertiga dengan ayah ibunya. Ia seringkali mengenakan baju berwarna merah—warna kesukaannya. Hampir semua yang ia kenakan berwarna merah, sepatunya merah, ikat rambutnya merah, memakai kalung pemberian ibunya yang juga berwarna merah. Suatu pagi, Nara bosan. Biasanya pagi hari ia harus membantu ayah ibunya membereskan rumah. Ia kabur, dengan mengenakan baju merahnya, menuju pantai, tanpa sepengetahuan ayah ibunya.   Lebih baik tak memberitahukan mereka, pikirnya. Sampai di pantai, ternyata banyak teman-teman seumurannya yang sudah berada di sana. Ia langsung berlari ke arah mereka. Ikut bermain kejar-kejaran, lempar tangkap bola, dan membuat rumah-rumahan dari pasir.  Ah, menyenangkan sekali. Selama ini aku tak pernah diizinkan main pagi-pagi, gumam Nara dalam hati. Hari sudah semakin siang, matahari semakin terik. Teman-temannya satu persatu pulang ke rumahn...

Sajak Bulan Juni

Akan ada bulan-bulan lain yang lebih indah dibandingkan Bulan Juni. Tetapi buatku, Juni akan selalu kukenang. Juni beserta hujan yang turun di dalamnya, akan selalu menjadi favorit.  Hujannya Bulan Juni bukan hanya kepunyaan Eyang Sapardi. Tetapi milik kita semua. Milik siapapun yang sedang menikmatinya. Bagiku, hujan Bulan Juni memang selalu indah. Bukankah matahari yang terik bersinar setelah derasnya hujan. Bukankah tanaman akan tumbuh lebih subur karena guyuran hujan yang terus menyiraminya?  Aku percaya, bahwa hujan ini, akan menumbuhkan tanaman-tanaman yang layu. Bahkan memunculkan bunga-bunga yang indah. Menyirami tanah-tanah yang gersang. Akan ada banyak keindahan setelah hujan. Bahkan indah pelangi takkan muncul tanpa adanya hujan. Pun hujan Bulan Juni ini akan terus menjadi sesuatu yang indah. Sesuatu yang mengajarkan kita tentang arti merelakan. Seperti hujan turun Memang sudah selayaknya, memang sudah sepantasnya, kita harus semakin pandai untuk merelakan. Apa bagi...

Mengenali Diri

Tiba-tiba saja teringat kajian yang disampaikan oleh Ustaz Oemar Mita yang berjudul Journey With Quran . Salah satu hal yang disampaikan oleh beliau adalah, setiap orang memiliki ibadah yang dimudahkan oleh Allah, dan itu berbeda-beda pada setiap orang. Hal ini tidak bisa disamakan antara satu orang dengan lainnya. Setiap orang memiliki kesanggupannya masing-masing. Beliau pun menuturkan bahwa jangan pernah meremehkan amalan orang lain. Misalnya, ada orang yang kesusahan untuk melakukan amalan seperti puasa dan tahajud. Bukan berarti orang tersebut buruk. Bisa jadi amalan lain, seperti sedekah misalnya, justru memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah, karena nilai dari keikhlasannya yang luar biasa. Pun j angan mencela amalan orang lain, jangan mencela ibadah orang lain, yang Allah mudahkan untuknya. Bisa jadi nilai ibadah orang tersebut, justru jauh lebih berat nilainya dibandingkan dengan kita. Selain itu yang ditekankan oleh ustaz adalah, ja ngan memaksakan semua ibadah. Satu...

Tergesa

Barangkali kamu pernah. Kecewa atas sesuatu yang terjadi di luar kendalimu. Mulai menyalahkan dirimu. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan siapapun yang ada di sekitarmu. Membenci apapun yang nampak di hadapanmu. Sampai-sampai menuduh, menyalahkan takdir. Padahal sebenarnya, kamulah yang terlalu terburu-buru. Selalu tergesa-gesa dalam segala sesuatu. Tergesa dalam menafsirkan setiap rangkaian keadaan. Tergesa dalam mengambil keputusan. Tergesa dalam menentukan tindakan.  Istirahatkanlah sejenak pikiranmu. Barangkali pikiranmu hanya sedang lelah atas semua tumpukan permasalahan. Kamu hanya perlu waktu untuk bisa berpikir lebih jauh. Berhentilah sejenak, kamu hanya perlu jeda. Barangkali dengan adanya jeda, mampu membuka pikiranmu menjadi lebih leluasa.  Barangkali selama ini kamu hanya sebatas menerka-nerka. Menyakiti perasaanmu dengan pikiran tergesamu itu.  Kamu lupa, bukankah kita sejatinya tak pernah punya kuasa mengetahui muara dari setiap kejadian yang ada. Bukankah...